Book Review : All That is Gone by Pramoedya Ananta Toer

Title : All That is Gone
Author : Pramoedya Ananta Toer
Published by : Penguin Books
Pages : 255 Pages
Published on : January 25, 2005
Format : Paperback (Periplus)
Started on : September 21, 2014
Finished on : September 22, 2014
Rating : 3 of 5 stars!











Summary :
Pramoedya Ananta Toer’s transcendent novels have become part of the world literary canon, but it is his short fiction that originally made him famous. The first full-size collection of his short stories to appear in English, All That Is Gone draws from the author’s own experiences in Indonesia to depict characters trying to make sense of a war-torn culture haunted by colonialism, among them an eight-year-old girl soon to be married off by her parents for money and an idealistic young soldier who witnesses the savage beating of a man accused of being a spy. Though violence and brutality pervade these tales, there is present throughout a profound sense of compassion—an extraordinary combination of despair and hope that gives All That Is Gone rare power and beauty.

Review :
Read in english, write the review with Indonesian Languange

All that is Gone adalah karya dari Bung Pram yang pernah menghiasi di Indonesia diterbitkan oleh Penguin books tahun 2005. Buku ini berisi 8 cerita pendek yang diterjemahkan dari dua buku kumpulan cerita pendeknya, Cerita dari Blora (terbit 1952, dilarang beredar pada tahun 1976), dan Subuh, (1951). tujuh cerita awal diambil dari cerita Blora dan satu cerita dari Subuh. Saya akan mengupas masing-masing Cerita pendek didalam buku ini dan cerita mana yang memikat hati saya

All That is Gone
Kisah seorang anak laki-laki yang tumbuh besar dari kenangan-kenangan yang pernah diingatnya seperti pernah diasuh oleh Pembantu bernama Nyi Kin dan pembantu lainnya yang silih berganti, disatu sisi ia menuntut ayah dan ibunya untuk hidup bersama-sama padahal terkadang ia susah sekali mencari ayahnya yang tidak kunjung pulang. pada akhirnya ia menerima sesuatu itu bisa jadi tidak sesuai realita

Cerita kedua yaitu Inem mengisahkan tentang seorang gadis kecil bernama Inem yang berusia 8 tahun yang merupakan pembantu dan juga teman kecil si tokoh utama ini disuru menikah sama orangtuanya. Menikahnya pun tidak tanggung-tanggung dengan pria bernama Markaban yang berusia 17 tahun.. Pada akhirnya Inem harus menemui kenyataan menyakitkan ia harus menjadi janda di usia 9 tahun dan ibu tokoh utama tidak mampu berbuat apa-apa untuk menolongnya karena mempertahankan nama baik keluarga =___=a

In Twilight Born
Cerita ini mengisahkan tokoh utama yang sudah mulai beranjak remaja. Ia menceritakan di lingkungan rumahnya sendiri tinggallah beberapa anak angkat yang juga disekolahkan. Salah satu anak angkat tersebut suka menyatakan pendapatnya terutama mengkritisi isu politik dan sosial. Sang Bapak juga aktif di organisasi sosial yang di luar rumah. Si tokoh utama sangat mengagumi apa yang dilakukan oleh mereka dan terakdang mengikuti mereka tanpa paham apa maksudnya. Pada suatu ketika situasi sosial politik berubah dan mengakibatkan keadaan ekonomi keluarga menjadi sulit. Tidak tahan dengan tekanan kakak angkat yang menjadi panutan malah sering pergi meninggalkan rumah dengan pergi ke kota lain ataupun bermain judi. Bapak juga sering pergi meninggalkan rumah dengan dalih menenangkan diri, pergi ke kota lain atau bermain judi untuk menghilangkan tekanan pikiran. Tinggal Ibu yang berjuang dari hari ke hari menyambung hidup rumah tangga dengan tenaganya. Hingga pada suatu saat di senja hari, sang Ibu, dengan ditemani seorang bidan, berjuang sendiri melahirkan anak keempat.

Circumcision
Kisah ini menceritakan tentang harapan sederhana seorang bocah yang harus pupus oleh kesadaran bahwa untuk mencapainya ternyata diperlukan biaya atau kekayaan yang besar, dimana kondisi itu jauh dari kenyataan hidupnya. Ia berandai-berandai ketika dia berhasil disunat maka akan menjadi seorang muslim yang taat dan akan lebih sempurna lagi jika ia bisa naik haji

Revenge
Disini dikisahkan si tokoh utama sudah beranjak dewasa dan memutuskan untuk menjadi tentara di awal-awal masa kemerdekaan. Ketika suatu saat dia dan kumpulannya menangkap orang yang dicurigai seperti mata-mata ia akhirnya memikirkan kembali apakah menjadi tentara benar-benar jalan yang tepat untuknya?

Independence day
Cerita keenam di buku ini mengisahkan tentang seorang mantan veteran yang bernama Kirno yang menjadi cacat karena kedua kakinya harus diamputasi dan matanya menjadi buta sehingga selamanya ia harus hidup dengan kursi roda dan bantuan orang lain. Ia menangis mendengar kemerdekaan indonesia di radio karena tidak bisa menikmatinya dengan gegap gempita yang ada. Ia memutuskan untuk menyendiri di tempat penampungan orang cacat supaya tidak memberatkan mantan tunangannya dan juga keluarganya yang harus senantiasa mengurusnya

Acceptance
Ini cerita yang paling bagus menurut saya! Cerita yang mengisahkan sebuah keluarga yang terdiri dari ayah dan anak-anaknya (Sri, Diah, Husni, Hutomo, dan Kariadi) yang merupakan keluarga sederhana di masa kedatangan Jepang dan perang revolusi di awal kemerdekaan. nasib keluarga ini menjadi terseret naik turun mengikuti pergantian ideologi saat itu entah Nasionalis ataukah Sosialis? Semua keberuntungan dan kesedihan datang silih berganti menghampiri keluarga itu. mulai adik dan ayah yang meninggal, adik yang menjadi golongan sosialis dsbnya. Dan, nasib keluarga ini begitu tragis hingga Sri, dari sudut mana narator bercerita, menumbuhkan sikap ‘acceptance‘ lebih supaya bisa bertahan hidup dari segala masalah yang pernah terjadi pada mereka

The reward of marriage
cerita tentang harapan dan kenyataan yang diinginkan oleh soelaiman. Agak aneh sii yang ini banyak tentang angan2 yang diinginkan soelaiman mungkin karena disini ia seorang penulis cerita kali ya


yahhh itu dia cuplikan dari masing-masing cerpen di buku ini. Saya mengakui banyak sekali isu-isu yang diangkat dalam buku ini mulai dari politik dan sosial budaya. Sekilas mirip dengan Nyanyian Malamby Ahmad Tohari tapi saya lebih suka yang Ahmad Tohari sii karena penggambaran setting dan tokohnya dirasa lebih kuat dibandingkan cerita ini. Di buku ini ada 4 cerita yang menarik hati saya namun yang paling memikat saya adalah cerita yang acceptance hehe.. jadi boleh saya berikan 3 dari 5 bintang cukup rasanya! ;

Book Review : Suara Perempuan Korban Tragedi '65 by Ita F. Nadia

Judul : Suara Perempuan Korban Tragedi '65
Nama Pengarang : Ita F. Nadia
Penerbit : Galang Press
Halaman : 188 Halaman
Diterbitkan pada : 2007
Format : Paperback
Mulai Membaca : 07 September 2014
Selesai Membaca : 07 september 2014
Rating : 3,8 / 5 stars!











Sinopsis :
Pembantaian dan pemenjaraan massal yang terjadi pasca peristiwa G 30 S 1965 merupakan sejarah kelam bangsa Indonesia. Saat itu, banjir darah terjadi antara pekan ketiga bulan Oktober hingga Desember 1965.. Setengah juta rakyat dibunuh tanpa melalui proses pengadilan. Tidak hanya itu! Ratusan ribu orang dipenjara tanpa proses hukum. Teror dilakukan melalui mitos "Gestok", "PKI" dan "Gerwani". Korban dan anggota korban harus hidup dalam ketakutan dan kebisuan. Buku ini merupakan jalan di mana ketakutan dan kebisuan tersebut mesti dikubur. Ita F. Nadia dengan metode oral history dalam buku ini berhasil memberikan ruang kepada ibu-ibu yang disiksa dan diperkosa dengan sadis oleh oknum militer-dituduh terlibat dalam G 30 S karena aktivis Gerwani, BTI dan istri aktivis PKI-untuk bertutur tentang apa yang mereka alami. Kisah tutur ibu-ibu korban tragedi 1965 dalam buku ini bukan sekadar untuk dimaknai dalam konteks pengalaman korban. Lebih dari itu, untuk memulihkan martabat kemanusiaan mereka dan mengakhiri kekerasan dan diskriminasi di negeri ini. Seperti yang dituturkan oleh Ibu Yanti-penjual Sayur dan buah yang ditangkap setelah tragedi '65 dengan tuduhan terlibat menyiksa para jenderal-lewat buku ini mereka ingin mengatakan bahwa mereka bukan pembunuh para jenderal, apalagi menyayat-nyayat penis para jenderal. Suara ibu-ibu yang terekam dalam buku ini menjadi pelatuk di mana "politik pembisuan" sudah harus diakhiri dan martabat mereka sebagai manusia segera dikembalikan. "Saya tidak ingat lagi, betapa sering saya harus melayani serdadu-serdadu itu. Apalagi wajah-wajah mereka, sulit saya mengingatnya saking terlalu sering dan terlalu banyaknya serdadu-serdadu pemerkosa itu." Ibu sudarsi, aktivis mahasiswa 1965 (penerjemah) "...mereka segera menggali lubang selebar sumur. Kemudian saya mereka tanam berdiri setinggi leher di dalam lubang. Sebelum meninggalkan saya sendirian di hutan. Mereka mengencingi saya. Ibu suparti, aktivis BTI pelayan gereja

Review :
Buku ini seperti kepingan puzzle mengenai korban-korban tragedi 65 yang selama ini ditutupi oleh pemerintah. Buku ini seperti melengkapi kisah wanita-wanita yang menjadi korban kekejaman tentara Indonesia yang dicap sebagai simpatisan PKI/Gerwani. Jika tertarik untuk membaca kisah yang lebih detail bisa membaca buku Gerwani : Kisah Tapol Wanita di Kamp Plantungan

Buku ini berisikan kisah pengalaman dari 10 wanita yang menjadi korban keganasan tahun 1965. Saya akan menceritakan beberapa kisah wanita tersebut
1. Ibu Rusminah
Ibu Rusminah menjadi korban karena menikah dengan Sutarto yang merupakan anggota PKI. Hingga suatu saat rumah mereka digeledah dan dibakar oleh tentara2. Ibu Rusmninah dipaksa melayani seks laki-laki yang menjaga tahanannya silih berganti. Suatu Saat dia bertemu dengan Akhmad Sujari yang membangkitkan harapannya namun apa daya Ibu Rusminah hanya menjadi budak seks hingga melahirkan dua anak (Nurdin dan Susi). Di masa tuanya beliau kembali hidup menyendiri ke desa Gurah..

2. Ibu Partini
Ibu Partini adalah salah seorang anggota GERWANI yang berusia 15 tahun di tahun 1949. Ia bergabung dengan organisasi wanita tersebut dengan harapan bisa mendapatkan pengajaran keterampilan tentang jahit-menjahit dan mendapat keterampilan lainnya. Beliau menikah di usia 30 tahun dan masih ingat di dalam ingatannya ketika setelah dua hari melahirkan di Rumah Sakit Bersalin di Solo lima orang tentara menyerbu masuk ke kamarnya. Mereka melemparkan Ibu Partini ke dalam truk dan ia dituduh membunuh jenderal2. Penyiksaan Ibu Partini sangat terlihat jelas didalam kutipan beliau

"Di tengah sepi malam tiba-tiba saya terbangun. Seketika saya menjadi sadar! Ternyata saya sudah dalam telanjang bulat. Seorang laki-laki tinggi besar sudah menindih tubuh saya, dan dengan liar ia memerkosa saya. Saya merasa kesakitan luar biasa. Darah segar kembali mengalir dari vagina. Setelah merasa puas ditinggalkannya saya terkapar tanpa daya di tempat tidur. Belum sempat saya mengatur nafas, sudah datang lagi seorang laki-laki lain. Ia bertubuh kecil dan tinggi. Ia memerkosa saya dengan amat kasar, Tidak peduli pada darah yang terus mengalir. Saya tidak sadar lagi, apa yang terjadi pada saya sesudah laki-laki yang ketiga, seorang yang berperawakan pendek dan gemuk. Dengan berat tubuhnya ia menindis dan menindis tubuh saya, sambil menggigit-gigit payudara saya yang bengkak. Saya pingsan.. Halaman 62-63

3. Ibu Yanti
Ibu Yanti ditangkap saat berusia 14 tahun dan masih bersekolah di SMP. Diluar sekolah ia bergabung dengan ormas pemuda yaitu Pemuda Rakyat. Ibu yanti ditangkap dan disiksa dengan tidak berkeperikemanusiaan sebagaimana yang dinyatakan oleh beliau

"Beberapa kawan disetrum bersama-sama sekaligus. jari-jari atau puting payudara diikat dengan kabel pengantar listrik sambung-menyambung dan ujung kabel itu dihubungkan dengan sebuah generator. Lalu seorang penyiksa memutar generator, untuk membangkitkan dan mengalirkan arus listrik.. Halaman 77-78

Banyak kisah-kisah pengakuan yang dibungkam oleh wanita-wanita yang pernah merasakan kekerasan dari tentara di tahun 1965 dan penderitaan meskipun era tahun 1965 sudah lewat dan harus menjalani kehidupan sebagai eks tapol. Saya baca lebih lanjut tidak banyak juga wanita yang trauma akan kekerasan seksual yang pernah mereka terima di masa lalu sehingga lebih nyaman berhubungan dengan wanita/memilih hidup menjadi lesbian karena jijik disentuh oleh laki-laki.


Buku ini bagus saya berikan 3,8 dari 5 bintang untuk buku ini!

Book Review : Untuk Indonesia yang kuat : 100 Langkah untuk tidak miskin by Lidwina Hananto

Judul : Untuk Indonesia yang kuat : 100 Langkah untuk tidak miskin
Nama Pengarang : Lidwina Hananto
Penerbit : Literati
Halaman : 240 halaman
Diterbitkan pada : September 2010
Format : paperback (Diberikan oleh teman)
Mulai membaca : 22 Agustus 2014
selesai Membaca : 22 Agustus 2014
Rating : 4,4 / 5 stars!










Sinopsis :
Buku ini memuat pandangan Ligwina tentang bagaimana membuat Indonesia menjadi kuat. Menurut Ligwina, kita harus memiliki Golongan Menengah yang kuat pula untuk mencapainya. Dalam buku ini Ligwina menjelaskan siapa dan apakah Golongan Menengah tersebut. Golongan Menengah tidak lain adalah mereka yang memiliki pekerjaan tetap, hidup cukup nyaman, tapi masih harus berusaha untuk menjaga gaya hidupnya. Bisa jadi kitalah yang dimaksud sebagai Golongan Menengah. Jadi, kitalah yang bisa membuat Indonesia menjadi lebih kuat. Ligwina juga menjelaskan berbagai cara untuk menyehatkan keuangan Golongan Menengah ini dengan jelas dengan gayanya yang khas. Cara mengelola keuangan termasuk dana pensiun dan pendidikan dibahas dengan lugas, disertai dengan check list 100 langkah yang harus ditepati untuk menjadi bagian dari Golongan Menengah yang kuat. Karena dengan kuatnya Golongan Menengah, maka kuatlah Indonesia. Buku ini ditulis dengan penuturan khas Ligwina yang santai, tajam, mudah dimengerti dan mungkin akan membuat pembaca terhibur. Selain dilengkapi dengan ilustrasi yang memperkaya isi, secara visual juga didesain secara khusus agar pembaca dapat menikmati buku ini dari awal sampai akhir. Ligwina Hananto (Wina) adalah seorang Independent Financial Planner dan CEO dari QM Financial [www.qmfinancial.com]. Ia adalah host tetap untuk program Financial Clinic di 87,6 Hard Rock FM dan Financial Survival di 90,4 Cosmopolitan FM. Tujuan besar Wina adalah tercapainya stronger middle class Indonesian dan financial literacy bagi masyarakat Indonesia.

Review :
Buku ini layak saya berikan 4,4 dari 5 bintang! bagus banget! membuka mata kita sebenarnya mengenaai golongan menengah di Indonesia yang jumlahnya cukup besar di Indonesia! Apa itu golongan menengah? Golongan menengah itu adalah orang-orang yang tidak pernah pusing memikirkan mau tinggal dimana, makan 3x sehari cukup, bisa menyisihkan uang untuk hobi dan berlibur. Seriusaan itu SAYA BANGET! dan gak banyak orang indonesia yang berada di kondisi ini.. Golongan menengah ini gak bisa dibilang miskin karena mereka sudah tidak mikirin akan makan hari ini atau tidak tetapi juga tidak dibisa golongan kaya karena masih panik kalo ada inflasi atau kenaikan bensin

Golongan menengah ini tidak akan ada yang membantu masalah keuangan krn mereka bukan golongan miskin. Tetapi dalam kenyataannya golongan ini banyak mempunyai utang kartu kredit, belum punya rumah di umur 30 tahun, belum bisa membayar tagihannya sendiri dan masih kesusahan memikirkan uang sekolah anak dan dana jika dia pensiun nanti.

Saya sukanya di buku ini detail dijelaskan juga ada kan orang yang berprinsip kalo menabung itu udah aman. Jangan salah menabung pun ada kerugiannya dan itu gak cukup! coba kalo diitung sama Inflasi dan biaya administrasi bank.. Wahh bisa2 saat inflasi tinggi nilai uang yang kita tabung tiada artinya.. Contoh saja menurut Data BI,sekarang Inflasi di Indonesia Juli 2014 ini mencapai 4,53% terus rata2 tabungan hanya dapat bunga 4% wihh.. rugi donk nilai mata uang kita tergerus sebesar 0,53%.. Itulah yang saya katakan tabungan tidak cukup.. Sehingga menurut perencanaan keuangan mbak Lidwina, Keuangan kita juga harus disupport oleh Instrumen Investasi lain seperti Reksadana dan asuransi.. Jangan lupa juga mindset kita harus diubah! jangan menabung setelah sisa pengeluaran tapi sisihkan lah minimal 10% tabungan kita diawal.. Untuk mengakali ini bisa dengan disimpan di amplop kayak jaman2 dulu.. cuman kalo saya pribadi, saya memilih memisahkan uang tabungan saya ke rekening bank yang berbeda.. jadi kasarannya akun bank yang buat belanja dan tabungan bener2 dipisah.. jadi biar tidak tercampur..

Tipikal orang-orang berbeda-beda untuk melakukan investasi.. Ada tipikal yang high risk high return, moderate risk moderate return.. low risk low return.. gak pernah ada saya menemukan orang yang pengen high return tapi low risk.. dimana-mana kalo ingin mendapatkan pendapatan yang lebih tinggi pasti harus siap dengan risiko yang lebih tinggi. saya sendiri sedang mencoba mempraktekkan isi buku ini.. Portofolio investasi saya tidak hanya di tabungan karena saya paham bunga tabungan akan tergerus oleh nilai inflasi saat ini, tapi ada misalnya yang saya bekukan ke deposito, reksadana campuran yang bersifat moderate risk dan dana pensiun. ihh kok masih muda usia 25 tahun udah mikirin dana pensiun? saya mencoba berpikir ke depan masa sih kalo kalian pensiun mau ikutan ngerepotin anak dan cucu? independent financially!.. saya juga berharap kalo bisa sih pengen nambah portofolio lagi ke reksadana saham yang hasilnya baru bisa dinikmati diatas 15-20 tahun, logam mulia dan properti.. *semoga tiga ini cepet terkabul Aamin!

Di buku ini disebutin kalo kita membutuhkan DANA DARURAT! Apa itu dana darurat?
Dana Darurat ini adalah sejumlah dana yang siap jika terjadi kondisi yang darurat, misalnya terjadi PHK, sakit, kecelakaan, kematian.
Normalnya perhitungan dana darurat adalah sebagai berikut :
Single = 4 x pengeluaran bulanan
Double (keluarga tanpa anak) = 6 x pengeluaran bulanan
Keluarga dengan 1 anak = 9 x pengeluaran bulanan
Keluarga dengan 2 anak = 12 x pengeluaran bulanan

Jadi Inti dari buku ini yang pertama kali adalah tujuan kalian kedepan apa?? Iyah banyak golongan menengah ini yang  penghasilan 60 jutaan pertahun tapi ternyata ga punya apa-apa.. Rumah pun masih numpang, padahal disatu sisi ada juga banyak yang penghasilan cuma 2 jutaan tapi bisa beli rumah.. Tujuan kita akan mendirect bagaimana gaya hidup kita.. juga mempersiapkan bagaimana kelak hari tua kita.. agar kita tidak menyesal dikemudian hari..

Financial Independent means:
1. Pay your own bills
2. Pay your own debt
3. Buy your first property

While, Financial Freedom are:
1. Passive Income > Monthly Expenses
2. Achieving Financial Goals
3. Assets Ownership (Business, Property, Paper)

Sudah sehatkah keuangan kalian teman2?
sayaaa sukaa banget sama buku ini! sayang ini pas baca punya orang! semoga saya bisa menemukan buku ini.. biar bisa menjadi kompas untuk memilih instrumen investasi yang sesuai dengan saya..
4,4 dari 5 bintang!

Sumber Data Inflasi :

http://www.bi.go.id/id/moneter/inflasi/data/Default.aspx

Book Review : Zaman Edan : Indonesia di Ambang Kekacauan by Richard Llyod Parry

Judul : Zaman Edan : Indonesia di Ambang Kekacauan
Pengarang : Richard Llyod Parry
Penerbit : Serambi
Halaman : 452 Halaman
diterbitkan pada : Mei 2008
Format : Paperback (Indonesia Book Fair)
Mulai Membaca : 04 Agustus 2014
Selesai Membaca : 06 Agustus 2014
Rating : 3,8 / 5 stars!










Sinopsis :
Buku penuh fakta mengejutkan ini menuturkan kisah reportase wartawan terkemuka Richard Llyod Parry di Indonesia antara 1996-1999.

Dia meliput dari dekat dan mengalami langsung peristiwa pembantaian etnis dan kanibalisme di Kalimantan pada 1997 dan 1999, demonstrasi mahasiswa dan kerusuhan massal di Jakarta 1998, serta pembumihangusan Timor Timur oleh milisi dan tentara Indonesia menyusul jajak pendapat yang mengantarkan kemerdekaan negara itu pada 1999.

Ditulis dengan lancar, akrab, dan enak dibaca, buku ini membuka mata kita akan segala peristiwa kelam di negeri ini yang kerap ditutup-tutupi, sekaligus mengajak kita merenungkan kembali makna reformasi setelah 10 tahun rezim Orde Baru tumbang dan memaknai momen 100 tahun kebangkitan nasional

Review :
Akhirnyaa Selesaii juga saya membaca buku "ringan" ini. Sangat berbobot dan mencekam!
Buku non fiksi ini berisi dari tiga bagian yaitu mengenai kalimantan(1997-1999), Jawa 1998 dan Timor Timur 1998-1999..

Dari tiga bagian itu semua kisahnya sangat menarik tetapi saya dibuat merinding dengan kisah di kalimantan (1997-1999) dimana Pertempuran antara dua kelompok etnis yaitu penduduk asli Dayak dan pendatang Madura. Ketika Penduduk asli "terdesak" oleh kedatangan pendatang dan berbuat semena-mena akhirnya pembalasan akan lebih kejam.

"Beberapa orang Dayak membunuh mereka dan memotong kepala mereka.. Kepala-kepala orang Madura mereka bawa pergi. Jeroan tubuh-tubuh itu sudah tidak ada. Di dekat mayat2 itu bergelimpangan isi perut dan usus. Semuanya dibiarkan di situ untuk waktu lama. Tak seorang pastor pun cukup berani untuk menyelenggarakan penguburannya selama satu bulan.." Halaman 49

Itu cuma salah satu kutipan yang saya ambil dari buku ini di bab mengenai Pembantaian massal orang Madura di Kalimantan. Bab ini yang membuat saya sangat merinding antara mau nerusin baca atau tidak kenapa? wajar. begitu2 juga saya masih ada separoh darah Madura dari Ayah saya. >//<

untuk Bab yang Jawa 1998 banyak menceritakan tentang jaman Soeharto dan saat-saat kerusuhan Mei 1998 dimana banyak Mahasiswa trisakti yang menjadi korban bentrok demonstrasi saat itu. Kalo mau lihat lebih rinci bagaimana situasi mencekam saat itu bisa menonton filmnya yang berjudul Tragedi Semanggi 1998

Selain itu yang menarik adalah mengenai bab tentang Timor Timur yang menceritakan perjuangan mereka untuk lepas dari Indonesia saat itu. Untuk Hal yang ini menambah khasanah wawasan baru saya..

Di buku ini juga sempat membahas tentang Pembantaian Massal tahun 1965 di Bali meski tidak dibahas secara mendetail. Tapi saya sarankan jika tertarik mengetahui lebih dalam bisa membaca buku yang berjudul Ladang Hitam di Pulau Dewa : Pembantaian Massal di Bali 1965 by I Ngurah Suryawan yang mengupas kejadian kelam di Bali tersebut


Overall, Saya suka dengan isi Novel non-fiksi ini karena isinya menambah pengetahuan saya dan terjemahannya yang luwes jadi enak dibaca. Selain itu saya salut sekali seorang Wartawan Inggris bisa membuka kisah kelam yang pernah terjadi di Indonesia. namun masih ada kekurangan di Novel ini tidak ada gambar/foto pendukung dari masing-masing bab. yahh saya berikan 3,8 dari 5 bintang untuk buku ini! great books! :*

Book Review : Tan Malaka: Bapak Republik yang dilupakan by Tim Tempo

Pengarang : Tim Tempo
Penerbit : Tim Tempo
Halaman : 192 Halaman
diterbitkan pada : September 2010
Format : Paperback (Toko Buku Gramedia)
Mulai Membaca : 12 Juli 2014
Selesai Membaca : 13 Juli 2014

Rating : 3,2 / 5 stars!











Sinopsis :
Ibrahim Datuk Tan Malaka ialah Bapak Bangsa yang memberikan konsep "Republik Indonesia" bagi Hindia-Belanda yang bakal merdeka. Namun, serdadu dari negeri yang ia bela pulalah yang membunuhnya di Selopanggung, Jawa Timur.

Buku ini berisi reportase Majalah Mingguan TEMPO mengenai Tan Malaka dari berbagai sisi, mulai pemikiran, petualangan ke berbagai negara, sampai asmara yang bertepuk-sebelah tangan.

Seri TEMPO Bapak Bangsa ini merupakan bagian seri-seri reportase TEMPO lain mengenai para pendiri Republik Indonesia.

Review :
"Ingatlah bahwa dari dalam kubur suara saya akan lebih keras daripada di atas bumi - Tan Malaka di buku Dari Penjara ke Penjara Jilid II, 1948

Siapa yang tidak kenal akan Tan Malaka. Seorang tokoh yang pernah memimpin Partai Komunis Indonesia (PKI) (meskipun dikatakan tidak akur dengan Aidit dan Musso). selain itu beliau menulis buku tentang gagasan konsep republik Indonesia yang berjudul Naar de Republiek Indonesia pada tahun 1925. Jauh sebelum adanya mohammad Hatta dan Bung Karno yang mereka berdua terinspirasi dari tulisan beliau.

Pejuang yang kesepian. Itu yang saya tangkap dari membaca kisahnya dibuku ini. Beliau meninggal di usia 52 tahun di tahun 1949. Setengah dari usia beliau dilewatkan di luar negeri: enam tahun belajar di negeri Belanda setelah lulus sekolah di Padang dan 20 tahun sisanya mengembara dalam pelarian politik mengelilingi hampir separuh dunia mulai dari amsterdam, rotterdam pada 1922, diteruskan ke Berlin, moskow, kanton, HOngkong, Manila, Shanghai, Tiongkok sebelum dia menyelundup ke Rangoon, Singapura, Penang dan kembali ke Indonesia dengan waktu sejak 1933 hingga 1942 dengan menetap terlama di Hongkong. Selama itu pula dia menggunakan 13 alamat rahasia dan sekurang-kurangnya tujuh nama samaran. kasian sungguh kasian dimana ia berjuang memikirkan republik ini namun seakan kurang tiada tanggapan yang berarti.

Sewaktu akan diadakannya penculikan Soekarno-Hatta oleh pemuda ke Rengasdengklok dan pengumuman proklamasi kemerdekaan di 17 AGustus 1945 Tan Malaka tidak diikutsertakan dimana itu adalah titik demokrasi indonesia yang pertama. Sempat juga Soekarno membuat testimen mengenai pemindahan pemerintahan apabila ada kondisi darurat yang berisikan apabila beliau dan Hatta tidak bisa melanjutkan pemerintahan akan diteruskan oleh Tan Malaka namun sayangnya pada akhirnya testimen itu dimusnahkan karena ditolak dari beberapa pihak

ada beberapa kata-katanya di buku ini yang saya anggap agak fenomenal dan membuat saya bertanya-tanya terutama yang kutipan beliau yang terakhir

"Orang tak akan berunding dengan maling di rumahnya - Tan Malaka Pidato di rapat pertama persatuan perjuangan ke-1 purwokerto tahun 1922

Hal inilah yang membuat perbedaan pandangan Tan malaka kepada Soekarno pada akhirnya. Ia kecewa tidak seharusnya mereka berunding. kemerdekaan yang dengan berunding akan menghasilkan kemerdekaan yang tidak 100%

"Ketika menghadap Tuhan saya seorang muslim, tapi manakala berhadapan dengan manusia saya bukan muslim - Tan Malaka pidato di Kongres komunis Internasional ke-4 di Moskow tahun 1922


Buku ini saya berikan 3,2 dari 5 bintang :)